Manfaatkan Internet, Oknum Polisi Lancarkan Peredaran Sabu

Sesuai pasal ancaman pidananya tetap hukuman mati

Ilustrasi

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara berhasil mengungkap 2,9 kg sabu yang melibatkan oknum polisi berinisial AL, ternyata awalnya mengendus jumlah sabu yang beredar lebih banyak dari yang terungkap.

Kepala BNNP Kaltara, Brigjen Pol Henry Simanjuntak melalui Kabid Pemberantasan AKBP Deden Andriana mengatakan, informasi awal yang ia terima ada sabu dari Malaysia dalam jumlah besar.

“Informasi kita terima dari masyarakat, bahwa akan ada pengiriman sabu dari sebelah (Malaysia) ke Tarakan dalam jumlah besar. Karena kami belum punya armada laut, kami berkoordinasi dengan tim Tindak Bea Cukai Tarakan. Informasi memang semua sabu ini berasal dari laut,” jelas Deden.

Pengintaian dilakukan sejak sore hingga dini hari, namun tidak membuahkan hasil. Informasi lanjutan, sabu ini sudah lolos ke darat.

Hasilnya didapati sabu sudah ada di tangan seorang, berinisial HR alias AR. HR pun ditangkap di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Karang Anyar Pantai. Namun, barang bukti sabu yang didapati sudah dalam kondisi dipecah-pecah.

Berdasarkan keterangan dari AL dan AR, memang didapati informasi seorang warga binaan berinisial HN di dalam Lapas Tarakan yang mengendalikan. Namun, pihaknya masih mendalami keterlibatan warga binaan ini.

Ia mengaku tidak mau gegabah, karena warga binaan ini sudah tiga kali residivis dan memiliki trik tertentu untuk keluar dari jeratan hukum.

Sehingga, penyidik harus bisa mempelajari dengan benar bagaimana caranya HN termasuk dalam jaringan narkotika. Sedangkan pengakuan AL, ia tidak kenal siapa yang menyerahkan sabu, sebelum ia berikan lagi kepada AR.

“Mereka ini komunikasi menggunakan media sosial, ada Mesengger di Facebook itu. Jadi, semua hilang. Si HN dan orang yang kasih sabu ke AL ini menggunakan akun palsu. Pintar dia memang, dan begitu kami buka semua medsos si HN, karena mungkin tahu dihapus semua. Tapi, sudah kami dokumentasikan dulu, di-screenshot. Jadi, kalau mengelak kami punya bukti percakapan,” ungkapnya.

AL dan HR disangkakan pasal 114 ayat 2 subsider pasal 112 ayat 2 junto pasal 132 ayat 2 dan ayat 1.

“Mereka ini rata-rata bukan pengguna, tapi kurir. Tapi, sesuai pasal ini ancaman pidananya tetap hukuman mati,” tegasnya.