Maia Estinati Kembali Positif COVID-19, Terinfeksi Kedua Kali, Mengapa Bisa Terjadi?

Aktris Maia Estianty kembali terpapar Covid-19 untuk yang kedua kalinya pada akhir Maret 2021.

Maia Estianti kembali terpapar Covid-19

Aktris Maia Estianty kembali terpapar Covid-19 untuk yang kedua kalinya pada akhir Maret 2021. Maia bukan satu-satunya penyintas yang kembali terpapar wabah tersebut.

"Saya sempat terkena Covid-19 yang kedua kali pada akhir Maret. Kali ini berbeda dengan sebelumnya, lebih ada gejala," ujar Maia dalam akun Youtube Maia Aleldul TV, Jumat (9/4).

Maia mengaku longgar dalam menerapkan protokol kesehatan. Ia sempat memeluk orang yang ternyata positif terinfeksi Covid-19.

"Seminggu sekali pasti uji PCR di Indonesia Idol, ternyata saat itu hasilnya positif. Gejalanya hanya tenggorokan sedikit tidak enak. Itu ternyata gejala, jadi jangan diabaikan," katanya.

Maia seperti dikutip Kumparan.com, pertama kali terinfeksi Covid-19 pada akhir Desember 2020. Ia saat itu bercerita hanya butuh tiga hari untuk hingga kembali dinyatakan negatif Covid-19 dari saat hasil tes PCR yang menunjukkan positif Covid-19.

Namun pada infeksi kedua, ia butuh lima hari untuk kembali dinyatakan negatif setelah tes yang menyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Hal yang sama juga pernah dialami oleh seorang penyintas berinisal JK. Mengutip situs Kawal Covid-19, JK pertama kali terinfeksi Covid-19 pada Maret 2020. Kala itu, ia mengalami gejala berat hingga harus dirawat selama 26 hari di rumah sakit. 

Pada Juli 2020, ia kembali tertular Covid-19 lantaran sang istri yang terlebih dahulu terinfeksi. Namun saat tertular kedua kalinya, ia tak mengalami gejala. Hasil PCR-nya juga menunjukkan positif Covid-19 tetapi dengan CT Value 36 yang biasanya diartikan minimnya jumlah virus di dalam tubuh.

Pasien positif Covid-19 bertambah 4.127 orang per 11 April 2021. Total Kasus mencapai 1.566.995 dengan 1.414.507 pasien dinyatakan sembuh dan 42.530 orang meninggal dunia terlihat dalam databoks di bawah ini.

Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, orang yang sembuh dari infeksi virus biasanya punya respons kekebalan dan mengembangkan proteksi terhadap penyakit . Sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi, yang mampu mengenali virusnya jika menyerang untuk kedua kali. Antibodi juga tahu cara memeranginya.

Namun dalam kasus virus corona SARS-CoV-2 pemicu Covid-19, penelitian terbaru yang dilakukan di rumah sakit Schwabing di München Jerman, menunjukkan adanya penyimpangan dari hal lazim itu.

Clemens Wendtner, dokter kepala di rumah sakit itu, melakukan rangkaian pengujian kekebalan pasien Covid-19, yang dirawat akhir Januari 2020 dan dinyatakan sembuh.

Tes menunjukkan terjadi penurunan jumlah antibodi pada tubuh mereka secara signifikan. Wendtner mengatakan bahwa antibodi yang menghentikan serangan virus, menghilang hanya dalam waktu dua sampai tiga bulan pada empat dari 9 pasien yang dimonitor.

Hasil pemantauan tersebut juga serupa dengan investigasi yang sudah dilakukan di Tiongkok. Riset di negara awal mula Covid ini juga menunjukkan bahwa antibodi virus SARS-CoV-2 pada bekas pasien Covid-19 tidak ada lagi dalam darah mereka.

Dalam kondisi seperti ini, pasien bisa kembali terinfeksi virus corona karena tidak lagi memiliki perlindungan. Meski demikian, penelitian lanjutan dengan skala lebih besar masih perlu dilakukan untuk menegaskan anomali ini.

Hal menarik yang ditemukan dalam riset ilmuwan di Tiongkok pada jurnal ilmiah Nature Medicine,adalah perbedaan efektivitas imunitas pada pasien Covid-19 yang sembuh. Riset tersebut menyebutkan bahwa pasien yang tidak menunjukkan gejala sakit, mengembangkan kekebalan tubuh yang lebih lemah, dibanding pasien dengan gejala berat.

Riset tersebut memfokuskan diri pada 37 pasien tanpa gejala dan 37 pasien Covid-19 dengan gejala lebih berat. Penulis laporan menyebutkan, pada kedua kelompok lebih 90% menunjukkan adanya penurunan jumlah antibodi penetral virus corona. 

Namun pada kelompok pasien asimptomatik, menurunnya jumlah antibodi berlangsung lebih cepat dibanding pasien dengan gejala sakit.

Sementara itu, mengutip CNN, studi terbaru yang dipublikan pada Jurnal Medis, Lancet pada pertengahan Maret 2021 menyebutkan bahwa reinfeksi Covid-19 jarang terjadi. Namun, infeksi berulang tersebut lebih mungkin terjadi pada orang yang berusia 65 tahun ke atas.

Tim ilmuwan yang juga tediri dari epidemolog dan ahli pencegahan penyakit menular Denmark menemukan bahwa kebanyakan orang yang menderita Covid-19 memiliki kekebalan terhadap virus hingga enam bulan. Setelah enam bulan, penelitian juga menunjukkan bahwa kekebalan tersebut tidak berkurang.

Namun, setelah dicek berdasarkan demografi, kasus infeksi berulang sebagian besar terjadi pada orang berusia 65 tahun ke atas.

Penelitian ini melihat angka reinfeksi pada empat juta orang selama gelombang kedua Covid-19 pada September hingga Desember 2020 dibandingkan dengan gelombang pertama yang terjadi antara Maret dan Mei. Dari 11.068 orang yang dites positif Covid-19, hanya 72 orang yang mengalami infeksi kedua.

Kelompok usia yang lebih tua hanya memiliki 47 persen perlindungan terhadap kemungkinan infeksi berulang, dibandingkan dengan orang yang lebih muda yang memiliki sekitar 80 persen perlindungan dari infeksi ulang.

Penemuan ini bukan sepenuhnya tidak terduga karena seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan mereka melemah. 

"Mengingat apa yang dipertaruhkan, hasilnya menekankan betapa pentingnya orang menerapkan tindakan pencegahan, bahkan jika mereka telah tertular Covid-19," rekan penulis studi Dr. Steen Ethelberg dari Statens Serum Institut di Denmark.

Data-data ini, menurut ahli imunologi Rosemary Boyton dan Daniel Altman dari Imperial Collage London, mengkonfirmasi bahwa kekebalan alami yang terbentuk tak sepenuhnya dapat diandalkan. Program vaksinasi global dengan efikasi tinggi menjadi solusi utama dari pandemi ini.

Vaksin Covid-19 tidak menjamin penerima terbebas 100 persen dari wabah tersebut. Selain itu, dibutuhkan waktu bagi vaksin untuk membentuk antibodi seseorang terhadap virus.

Pemerintah terus mengingatkan agar penerima vaksin tetap menjalankan 3M, yakni mencuci tangan dengan air mengalir, memakai masker, dan menjaga jarak. Selain itu, penerima vaksin tetap harus menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas untuk terhindar dari penularan Covid-19.