Perkantoran Jadi Episentrum Penyebaran COVID-19, Ahli Sarankan Zona Merah dan Oranye Kembali WFH

Sementara pengamat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani menyebut WFH bisa dilakukan sampai situasi penyebaran COVID-19 sudah menurun atau vaksin berhasil dikembangkan

Gedung Perkantoran di Jakarta Berpotensi Jadi Episentrum COVID-19 - Foto Istimewa

Ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menyarankan agar para pegawan kembali bekerja dari rumah atau work from home (WFH) seperti sebelum era normal atau sebelum pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan. WFH tersebut, katanya haris dilakukan di wilayah rentan penularan Corona Virus Desease 2019 atau COVID.

Windhu Purnomo menyampaikan hal itu terkait merebaknya cluster perkantoran sebagai titik penularan yang berpotensi menjadi episentrum menyebaran  COVID-19, mengingat jumlah klaster perkantoran naik di Jakarta pada masa PSBB transisi.

Klaster perkantoran menjadi 90 klaster dengan kasus positif sebanyak 459 kasus. Padahal sebelumnya, jumlah kasus positif dari klaster perkantoran hanya 43 orang. Sehingga, terjadi kenaikan hingga 10 kali lipat. Untuk itu Satgas COVID-19 merekomendasikan perusahaan atau perkantoran lebih baik menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH).

Zona merah dan oranye yang dimaksud mengacu pada zonasi warna yang ditetapkan Satgas COVID-19. Satgas menandai wilayah yang rawan penularan COVID-19 dengan empat warna, hijau, kuning, oranye, dan merah.

"Selama kantor itu berada di zona oranye-merah seharusnya WFH, karena situasinya berarti masih sangat berisiko penularan masih tinggi kan berarti, itu harusnya tidak boleh ada aktivitas perkantoran di luar esensial," tutur Windhu Purnomo, Kamis (30/07/2020).

Pekerjaan esensial menurut Windhu Purnomo tetap bisa dilaksanakan tanpa jarak jauh karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat.

Sementara pengamat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani menyebut WFH bisa dilakukan sampai situasi penyebaran COVID-19 sudah menurun atau vaksin berhasil dikembangkan.

"Dengan WFH paling tidak sampai situasi penyebaran COVID-19 sudah menurun atau sudah mendapatkan vaksin," lanjut dia.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut vaksin COVID-19 asal China yang tengah diuji di Indonesia akan bisa diproduksi pada awal 2021.

Lebih lanjut, Windhu Purnomo menyayangkan saat ini beberapa daerah yang masih zona merah tidak mematuhi aturan WFH. Padahal menurut Windhu Purnomo semestinya jika ada di wilayah yang masih di zona merah aktivitas warga harus dibatasi.

Mulai dari bekerja di rumah, meminta warga lebih banyak tinggal di rumah, tidak boleh ada pergerakan seperti transportasi umum dan kendaraan. Begitu juga kegiatan di mal hingga perkantoran pun semestinya dibatasi.

"Tapi nyatanya tidak dilakukan, kenyataannya tetap longgar, semua dibuka, mal dibuka," keluhnya.

Sekalipun tempat umum itu dibuka, menurut Windhu semestinya tetap mematuhi protokol kesehatan. Senada, Laura juga menekankan perlunya protokol kesehatan yang ketat agar menekan kasus penyebaran COVID-19 di kantor.

Protokol kesehatan yang dimaksud terkait menjaga jarak dan waktu bekerja di dalam kantor yang merupakan ruangan tertutup. Menurut Windhu Purnomo, durasi interaksi harus dikurangi dan jarak harus renggang. Terutama karena kantor merupakan tempat tempat tertutup. Sehingga, risiko penularan lebih tinggi.

"Maka jarak mesti lebih panjang bukan sekedar satu setengah meter tapi bisa dua meter atau lebih antar orang. Durasi manusia di dalam itu gak boleh terlalu lama...mungkin dipotong separuhnya jadi empat atau lima jam maksimum," jelasnya.

Windhu Purnomo juga menyarankan pegawai tetep pakai masker dan tidak boleh makan dan minum di dalam ruangan. Ia menyarankan makan dilakukan di ruang yang terbuka.