Indonesia Surganya Produk Asing, Anggur Saja dari China, Emas Asal Hong Kong, Besi Baja Impor dari Ukraina dan Banyak Lainnya

Mungkin tak banyak yang tahu, Indonesia mengimpor anggur kemasan asal China dan emas dari Hong Kong. Padahal, alam di Indonesia kaya buah-buahan dan emas. Dan masih banyak produk impor lainnya.

Anggur asal China rajai pasar buah Indonesia

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta, Selasa (15/9/2020), impor Indonesia sepanjang Agustus 2020 mengalami pertumbuhan 5% dibanding bulan sebelumnya. Yang diimpor, ya itu tadi, anggur asal China, emas dari Hongkong, Soya Bean Flour asal Brazil, besi baja dari Ukraina. "Selain emas, alat untuk kebutuhan komunikasi juga diimpor dari Tiongkok," kata Kepala BPS Suhariyanto.

Dia menjelaskan, impor barang konsumsi dan impor bahan baku untuk Agustus 2020 meningkat month-to-month, akibat kenaikan tingkat impor pada sejumlah komoditas. "Barang konsumsi month-to-month nya mengalami peningkatan 7,31%, di antaranya adalah anggur dari Tiongkok, kemudian cream and powder Selandia Baru, roll sugar insolid form dari India," katanya.

Sementara untuk impor non-migas pada Agustus 2020 tercatat US$9,79 miliar, atau naik 3,01% dibandingkan Juli 2020. Kemudian impor migas Agustus 2020 senilai US$0,95 miliar tercatat turun 0,88%, dibandingkan Juli 2020. Demikian pula jika dibandingkan Agustus 2019 turun 41,75%.

Peningkatan impor non-migas terbesar Agustus 2020 dibandingkan Juli 2020 adalah golongan besi dan baja senilai US$89,2 juta (23,31%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal, perahu, dan struktur terapung senilai US$60,8 juta (40,96%). Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Agustus 2020 adalah Tiongkok senilai US$24,72 miliar (29,90%), Jepang US$7,31 miliar (8,84%), dan Singapura US$5,41 miliar (6,55%).

Impor non-migas dari ASEAN tercatat senilai US$15,61 miliar (18,89%) dan Uni Eropa senilai US$6,61 miliar (7,99 %). Sementara nilai impor seluruh golongan penggunaan barang selama Januari-Agustus 2020 mengalami penurunan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Penurunan terjadi pada golongan barang konsumsi (7,86%), bahan baku/ penolong (18,85%), dan barang modal (20,13%)," tandas dia.

Sebagai infromasi, mencatat impor barang konsumsi paling besar sedangkan impor bahan baku menyumbang 7,31%. Adapun nilai impor RI per Agustus 2020 mencapai US$10,74 miliar, atau naik 2,65% dibandingkan Juli 2020 yang mencapai US$10,47 miliar.