KPK Geledah Rumah Orangtua Legislator PDIP, INFUS: Jika Tak Mau Dihukum Mati Sendirian, Juliari Harus 'Nyanyi'

Untuk itu, Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS), Gde Siriana Yusuf, berharap Juliari Batubara, mengungkap semua pihak yang ikut terlibat dalam korupsi bansos sembako untuk wilayah Jabodetabek tersebut

Eks Menteri Sosial, Juliari Peter Batubara di KPK - Foto: detik.com

Penggeledahan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di dua lokasi, Selasa kemarin (12/01/2021), terkait kasus dugaan korupsi bantuan sosial (bansos) untuk masyarakat terdampak Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 dengan tersangka utama Eks Menteri Sosial, Juliari Peter batubara menyiratkan ada pihak lain yang ikut terlibat selain mereka yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Sebab, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, salah satu rumah yang digeledah KPK diduga milik orangtua anggota DPR Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Ihsan Yunus.

Bisa jadi, informasi yang mendasari penggeledahan tersebut merupakan hasil dari pemeriksaan para tersangka yang telah dilakukan penyidik KPK.

Untuk itu, Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS), Gde Siriana Yusuf, berharap Juliari Batubara, mengungkap semua pihak yang ikut terlibat dalam korupsi bansos sembako untuk wilayah Jabodetabek tersebut.

"Juliari mesti 'nyanyi' kalau enggak mau dihukum mati sendirian, termasuk lagu #TangkapAnakPakLurah," ujar Gde Siriana, Selasa (12/01/2021).

Ia pun menilai tak hanya bansos yang jadi lahan rebutan para koruptor. Bahkan proses pemberian vaksin COVID-19 hingga bantuan langsung tunai juga dinilai bakal jadi incaran pihak-pihak yang ingin memperkaya diri sendiri dengan cara yang keliru.

"Tampaknya Bansos, Vaksin, BLT, jadi sedikit daging yang tersisa yang masih bisa direbutin, setelah infrastruktur macet," tambah Gde Siriana Yusuf.

"Nanti kalau sudah tinggal tulang, utang sudah susah, semua yang pegang tiang-tiang penyangga agar rezim bisa berdiri akan pada kabur," pungkas Gde Siriana Yusuf.