Asosiasi Ojek Online Kembali Merana, Pendapatan Anjlok 60 Persen Imbas PPKM

Asosiasi ojek online atau Garda memperkirakan, pendapatan anggota turun 40 persen hingga 60 persen akibat kebijakan PPKM.

Ojek Online

Pemerintah menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Jawa-Bali sejak Senin lalu (11/1). Asosiasi ojek online atau Garda memperkirakan, pendapatan anggota turun 40 persen hingga 60 persen akibat kebijakan ini.

PPKM sebenarnya mirip dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tetapi dengan sejumlah ketentuan baru yang membatasi aktivitas masyarakat. Selain itu, cakupan PPKM lebih luas karena dilakukan secara simultan di Jawa-Bali, dengan prioritas sejumlah kota besar.

Aturan tersebut membatasi sejumlah kegiatan, dari bekerja, ibadah, sekolah hingga wisata. Kebijakan ini bakal diterapkan hingga 25 Januari.

“Sejak PPKM berlaku, pendapatan pengemudi ojek online turun sekitar 40-60 perse  dibandingkan sebelumnya,” kata Ketua Presidium Garda Igun Wicaksono, Rabu (13/1).

Secara rinci, berbagi tumpangan (ride hailing) diprediksi turun 60 persen-70 persen, pesan-antar makanan dan pengiriman barang 30 persen.

Saat PSBB diterapkan, kata Igun dikutip katadata.co.id, pada awal pandemi corona, pendapatan pengemudi ojek online anlok 70 persen-90 persen dibandingkan sebelum ada Covid-19. Ini karena mereka tidak diperbolehkan mengangkut penumpang, serta pekerja dan pelajar diimbau bekerja dan belajar dari rumah.

Ketika PSBB diperlonggar, pendapatan pengemudi ojek online diperkirakan turun 50 persen dibandingkan sebelum ada virus corona. 

“Kini, dengan ada PPKM, penghasilan bisa turun lagi. Dari biasanya bisa mengangkut 10 penumpang, menjadi sekitar empat hingga enam saja,” ujar dia.

Ia berharap, pemerintah maupun aplikator seperti Gojek dan Grab memberikan bantuan berupa peralatan pendukung protokol kesehatan yakni hand sanitizer, masker, dan lainnya. 

“Ini supaya kami bisa melakukan pekerjaan dengan aman,” kata Igun.