Lapor Pak Polisi, 20 Ribu Orang Teken Petisi Usut Kembali Kematian Akseyna UI

Hingga pukul 15.30 WIB, petisi itu telah diteken total 20.094 warganet di situs petisi onlinechange.org. 

Aksena

Lebih dari 20 ribu orang meneken petisi online agar polisi kembali melanjutkan penyelidikan untuk mengusut kasus pembunuhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Akseyna Ahad Dori (18). 

Hingga pukul 15.30 WIB, petisi itu telah diteken total 20.094 warganet di situs petisi onlinechange.org. 

Petisi itu dibuat akun Peduli Akseyna yang mewakili keluarga Akseyna dan ditujukan Kapolres Depok, Kapolda Jabar, Kapolda Metro Jaya, dan pejabat di Fakultas FMIPA UI.

"Kami mendesak agar kepolisian melanjutkan kembali proses penyelidikan secara serius, mendalam, dan menyeluruh," demikian bunyi petisi tersebut.

Dikutip CNN Indonesia, petisi itu didorong karena hingga enam tahun penyelidikan, kasus itu belum menemukan titik terang. Keluarga menilai penyelidikan kasus tersebut oleh polisi berlarut-larut.

Padahal, menurut keluarga, polisi sebelumnya telah berulang kali berjanji akan menyelidiki dan mengungkap kasus tersebut. Namun, menurut mereka janji itu hanya terus diulang-ulang tanpa ada realisasi.

Menurut keluarga, pihak kampus juga terkesan lepas tangan dalam kasus kematian Akseyna. Keluarga, sebelumnya, beberapa kali sempat mengirim surat ke rektor UI dan meminta agar keluarga diberi bantuan hukum menghadapi kasus Akseyna.

Namun, katanya, pihak kampus justru lebih mendorong memberi bantuan pada mahasiswa yang terlibat kasus tersebut. Padahal, menurut keluarga, Akseyna juga mahasiswa UI.

"Padahal, korban dalam kasus ini, yakni Akseyna, adalah juga mahasiswa UI, mahasiswa mereka sendiri, sehingga seharusnya Akseyna pun mendapatkan hak bantuan hukum yang sama," katanya.

Kasus Akseyna terjadi pada 2015, saat sesosok mayat ditemukan mengambang di Danau Kenanga UI. Identitas mayat baru diketahui empat hari kemudian pada 30 Maret, yang diketahui sebagai Akseyna Ahad Dori (18), mahasiswa semester 3 Jurusan Biologi Fakultas MIPA UI.

Hasil penyelidikan dan gelar perkara, polisi menegaskan bahwa Akseyna dibunuh. Kesimpulan itu berdasarkan sejumlah bukti, antara lain tubuh Akseyna dipenuhi luka di kepala dan badan, dan saat ditemukan, jenazah Akseyna menggendong ransel berisi batu bata seberat 14 kilogram.

"Hasil autopsi menunjukkan adanya air dan pasir di paru-paru Akseyna, menunjukkan bahwa Akseyna dimasukkan ke danau dalam kondisi hidup atau bernafas namun tidak sadarkan diri," ujar keluarga.