Kabar Baik, Vaksin AstraZeneca Efektif 92 Persen Lawan Corona India

Vaksin AstraZeneca menawarkan perlindungan tingkat tinggi dari varian tersebut, efikasinya hingga 92 persen.

AstraZaneca

Varian Delta atau yang sebelumnya disebut varian B.1.617.2 alias corona India merupakan salah satu variant of concern WHO karena sangat menular. Kabar baiknya, vaksin AstraZeneca menawarkan perlindungan tingkat tinggi dari varian tersebut, efikasinya hingga 92 persen.

Ini merupakan data terbaru dari Public Health England (PHE) yang diterbitkan sebagai pra-cetak atau pre-print.

Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca dapat mencegah risiko rawat inap karena varian Delta sampai 92 persen. Selain itu, tidak ada kematian di antara mereka yang divaksinasi.

Selain memberi perlindungan terhadap varian Delta, vaksin AstraZeneca juga menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi terhadap varian Alpha (sebelumnya disebut varian B.1.1.7 yang pertama kali diidentifikasi di Inggris).

Disebutkan, vaksin AstraZeneca menekan risiko rawat inap hingga 86 persen karena varian Alpha dan tidak ada kematian yang dilaporkan usai disuntik.

Seperti kita tahu, pasien Covid-19 yang mendapat perawatan rawat inap di rumah sakit adalah yang mengalami gejala sedang hingga berat.

Dilansir dari laman resmi AstraZeneca, dikutip Kompas.com, Selasa (15/6/2021), data menunjukkan bahwa efektivitas vaksin terhadap penyakit simtomatik yang lebih ringan, meskipun signifikan, lebih rendah.

Efektivitas vaksin terhadap penyakit simtomatik (bergejala) adalah 74 persen terhadap varian Alpha dan 64 persen terhadap varian Delta.
Kemanjuran yang lebih tinggi terhadap penyakit parah dan rawat inap didukung oleh data terbaru yang menunjukkan respons sel T yang kuat terhadap Vaksin Covid-19 AstraZeneca, yang seharusnya berkorelasi dengan perlindungan yang tinggi dan tahan lama.

"Bukti nyata ini menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 AstraZeneca memberikan perlindungan tingkat tinggi terhadap varian Delta, yang saat ini menjadi area kritis yang menjadi perhatian karena penularannya yang cepat," kata Mene Pangalos, Executive Vice President, BioPharmaceuticals R&D.

"Data menunjukkan bahwa vaksin akan terus memberikan dampak yang signifikan di seluruh dunia mengingat vaksin tersebut terus menyumbang sebagian besar pasokan ke India dan fasilitas COVAX."

Analisis tersebut mencakup 14.019 kasus varian Delta – 166 di antaranya dirawat di rumah sakit – antara 12 April dan 4 Juni di Inggris.
Bukti nyata terhadap varian Delta ini didasarkan pada tindak lanjut terbatas setelah dosis kedua yang dapat memengaruhi perkiraan efektivitas.

Varian Delta adalah kontributor utama gelombang infeksi saat ini di anak benua India dan sekitarnya.
Baru-baru ini varian Delta menggantikan varian Alpha sebagai strain dominan di Skotlandia dan bertanggung jawab atas peningkatan kasus yang signifikan di Inggris.

Varian Delta juga mendominasi penularan Covid-19 yang terjadi di Kudus, Jawa Tengah. Hal tersebut diketahui dari hasil penelitian Whole Genome Sequencing (WGS) yang dilakukan oleh tim dari FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), yang dirilis Senin (14/6/2021).

Kelompok Ahli Penasihat Strategis WHO tentang Imunisasi (SAGE) telah merekomendasikan Vaksin Covid-19 AstraZeneca untuk dipakai di negara-negara dengan kasus penularan varian Delta yang menjadi perhatian.

Vaksin Covid-19 AstraZeneca diciptakan bersama oleh Universitas Oxford dan perusahaan spin-outnya, Vaccitech.

Vaksin AstraZeneca menggunakan vektor virus simpanse yang kekurangan replikasi berdasarkan versi virus flu biasa (adenovirus) yang dilemahkan yang menyebabkan infeksi pada simpanse dan mengandung materi genetik protein lonjakan virus SARS-CoV-2.

Setelah vaksinasi, protein lonjakan permukaan diproduksi, memicu sistem kekebalan untuk menyerang virus SARS-CoV-2 jika kemudian menginfeksi tubuh.

Vaksin telah diberikan izin pemasaran bersyarat atau penggunaan darurat di lebih dari 80 negara di enam benua. Lebih dari 500 juta dosis Vaksin Covid-19. AstraZeneca telah dipasok ke 165 negara di seluruh dunia, termasuk lebih dari 100 negara melalui Fasilitas COVAX.