Lewat Klinik Pancasila, BNPT Berikan Vaksin Ampuh Penangkal Virus Radikal Intoleran Di Lapas Sukamiskin Bandung

Klinik Pancasila merupakan bagian dari program pengembangan kepribadian warga binaan yang bertujuan menjadi wadah konsultasi tentang kewarganegaraan, potensi-potensi yang positif jadi warga negara yang baik yang mengerti Pancasila

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Klinik Pancasila kembali hadir memberikan vaksin untuk meningkatkan imun ampuh penangkal virus radikal intoleran kepada masyarakat khususnya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Kelas 1 Sukamiskin, Kota Bandung pada Rabu (16/6)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Klinik Pancasila kembali hadir memberikan vaksin untuk meningkatkan imun ampuh penangkal virus radikal intoleran kepada masyarakat khususnya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Kelas 1 Sukamiskin, Kota Bandung pada Rabu (16/6). 

Kepala Sub Direktorat Teknologi Informasi Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT, Kombes Pol Astuti Idris, S. Sos., yang mewakili Kepala BNPT, Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar M.H., menjelaskan hadirnya Klinik Pancasila di lapas merupakan bagian dari pencegahan radikalisme dan deradikalisasi. 

"Penguatan wawasan kebangsaan dalam hal ini melalui Klinik Pancasila dikemas lebih menarik sehingga diharapkan agar warga binaan dapat lebih paham dan menolak radikalisme dan intoleransi," ujar  dalam acara Penguatan Nilai-nilai Kebangsaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Sukamiskin (16/6). 

Astuti berharap program Klinik Pancasila dapat melahirkan duta-duta Pancasila yang menyebarkan semangat persatuan dan toleransi kepada warga binaan lapas yang lainnya. 

"Yang ikut ini belum seluruh warga binaan, harapanya yang ikut ini akan menularkan semangat nilai-nilai Pancasila kepada yang lain," jelasnya. 

Klinik Pancasila dikemas dengan format yang lebih menarik dan interaktif sehingga berbeda dibanding dengan penyuluhan Pancasila yang lainnya. Para warga binaan diajak  melakukan simulasi layaknya dokter dan pasien yang sedang berdialog. Kemudian mereka akan bergiliran bertukar peran menjadi dokter dan pasien dengan durasi kurang lebih 15 menit. Tiap Dokter dibagi menjadi lima orang yang mewakili lima sila dalam Pancasila. 

"Simulasi dokter-pasien di Klinik Pancasila akan menciptakan apa yang disebut sebagai dialog setara. Dalam dialog tersebut akan ada kesamaan pandangan dalam merawat Pancasila dari hati ke hati.Tiap sila ada dokternya. Yang kurang paham atau ingin berdialog soal sila tertentu silahkan menuju dokter di sila tersebut," ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Lapas Sukamiskin, Drs. Elly Yuzar, M.H. menyambut baik inisiatif dari BNPT dalam menghadirkan klinik Pancasila tersebut. Menurutnya warga binaan mempunyai hak dan kewajiban untuk diberi pemahaman sekaligus mengamalkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Elly juga memuji cara pencegahan radikalisme dan deradikalisasi BNPT yang hadir dalam konsep Klinik Pancasila. 

"Ini bagian dari usaha Pemersatu bangsa. Saya perhatikan penguatan nilai-nilai Pancasila sebelumnya monoton, membosankan. Nah di klinik Pancasila ini ada diskusi bahkan ada doktor Pancasila. Ini menarik," katanya.

Sementara itu, beberapa waktu yang lalu, Direktur Pembinaan Narapidana Latihan Kerja Produksi Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham Thurman S.M. Hutapea, Bc. IP., S.H., M. Hum., berpendapat Klinik Pancasila ini harus digalakan di tengah tantangan pudarnya nilai-nilai Pancasila di masyarakat. Khusus di lingkungan lembaga pemasyarakatan, Klinik Pancasila ini sejalan dengan program pembinaan kepribadian warga binaan. 

"Klinik Pancasila merupakan bagian dari program pengembangan kepribadian warga binaan yang bertujuan menjadi wadah konsultasi tentang kewarganegaraan, potensi-potensi yang positif jadi warga negara yang baik yang mengerti Pancasila," jelasnya. 

Thurman berharap, Klinik Pancasila dapat hadir terwakili di seluruh wilayah lembaga pemasyarakatandi Indonesia. 

"Saya dengar baru ada 16 Klinik Pancasila. Sementara seluruh lembaga pemasyarakatan itu ada sekitar 500-an. Berarti baru sekitar 3 persenan. Minimal ke depan akan meningkat jumlahnya. Setiap wilayah ada terwakili satu Klinik Pancasila," ujarnya.