Pencegahan Dini Bencana Hidrometeorologi di Indonesia

Pentingnya penguatan koordinasi Pentahelix yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, akademisi, media massa, maupun dunia usaha melalui update informasi terbaru terkait potensi cuaca ekstrem dan potensi bencana

Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah dan Penanggulangan Bencana Kemenko PMK Letjen (Purn) Sudirman

Kondisi Indonesia yang berada di daerah cincin api (Ring of Fire) menyebabkan tingginya frekuensi bencana di Indonesia. Sampai bulan November 2021 telah terjadi 2.431 bencana dan 98% diantaranya merupakan bencana hidrometeorologi. 

Bencana hidrometeorologi disebabkan oleh faktor alam seperti banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung. Frekuensi bencana hidrometeorologi pada tahun 2020 lalu, mengalami kenaikan hampir delapan kali lipat dibandingkan tahun 2005 silam. 

Kenaikan trend kejadian bencana di Indonesia oleh peningkatan curah hujan ekstrem serta dampak dari perubahan iklim dunia saat ini. 

Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah dan Penanggulangan Bencana Kemenko PMK Letjen (Purn) Sudirman mengatakan pentingnya pemahaman mengenai ancaman bencana hidrometeorologis supaya dapat ditangani dan tidak terulang kembali. 

"Sebetulnya kita membutuhkan pemahaman yang lebih baik lagi tentang risiko bencana hidrometeorologis dalam semua dimensinya mulai dari pengurangan paparan terhadap ancaman hingga peningkatan kepekaan masyarakat terhadap bahaya," ucapnya saat memberikan sambutan pada kegiatan Ambassador Talk di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (23/11). 

Langkah-langkah antisipasi bencana hidrometeorologi telah disiapkan oleh pemerintah mulai dari tingkat provinsi hingga masyarakat yang terdampak bencana tersebut. 

Deputi Sudirman juga menjelaskan bahwa penguatan koordinasi Pentahelix dengan melibatkan masyarakat, akademisi, media massa, dan dunia usaha terkait bencana hidrometeorologi. 

"Pentingnya penguatan koordinasi Pentahelix yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, akademisi, media massa, maupun dunia usaha melalui update informasi terbaru terkait potensi cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi di wilayah rawan bencana," tuturnya. 

Ia juga menambahkan, diperlukan sosialisasi kepada masyarakat supaya lebih mengenali lingkungan dan potensi bencana di lingkungannya, sehingga dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan dari bencana tersebut.

"Selain itu, perlunya melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai media yang ada sebagai upaya peningkatan antisipasi dan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi untuk mewujudkan Indonesia yang tangguh terhadap bencana dan tumbuh dalam pembangunan," ujarnya.