Stok Beras Menipis... Buwas Salahkan Kementan tak Setor ke Bulog, Kementan Tuding Bulog tak Mampu Menyerap!

Kementan menilai justru Bulog yang tidak mampu menyerap stok beras tersebut. Namun Budi menegaskan, Perum Bulog justru untuk menyerap stok beras dari Kementan. Perum Bulog siap membeli harga beras dengan harga komersil Rp10.200 per kilogram, bukan lagi sesuai dengan harga CBP Rp8.300

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) - Foto: CNN

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) mengakui, cadangan beras pemerintah (CBP) yang hingga kini belum mencapai target batas aman di 1 juta ton. Menurut Buwas, salah satu penyebabnya, Kementerian Pertanian (Kementan) tidak turut menyetor stok beras ke Bulog.

Budi Waseso menjelaskan, memang Perum Bulog ditugaskan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyediakan CBP sebanyak 1-1,2 juta ton beras hingga akhir tahun 2022. Namun tercatat hingga 22 November 2022 total stok beras di perum Bulog masih 594.856 ton.

Sebelumnya, kata Budi, Dirjen Tanaman Pangan Kementan Suwandi menjanjikan akan membantu perum Bulog untuk mencapai target tersebut. Namun, nyatanya pihak Kementan hanya mampu menyediakan 44.000 ton beras untuk diserap Bulog.

"Memang tidak tercapai, tidak ada barangnya bahkan pada saat itu di depan Pak Menko bahwa kurun waktu 1 minggu akan menyetor beras 500.000 ton untuk Bulog," ujar Buwas dalam RDP dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (23/11/2022).

Di sisi lain, Kementan menilai justru Bulog yang tidak mampu menyerap stok beras tersebut. Namun Budi menegaskan, Perum Bulog justru untuk menyerap stok beras dari Kementan. Perum Bulog siap membeli harga beras dengan harga komersil Rp10.200 per kilogram, bukan lagi sesuai dengan harga CBP Rp8.300.

"Harga paling besar besar beli komersial itu Rp10.200, kita melakukan itu dan pada hari ini pun kita melakukan itu membeli yang harga Rp10.200, ini kita beli sekarang tapi bukannya kita tidak mau tapi jumlahnya (tidak ada)," ungkapnya.

Bulog Sudah Siapkan Anggaran

Dikatakannya, Perum Bulog sudah menyiapkan anggaran untuk membeli stok beras dari Kementan, meskipun anggaran tersebut hasil dari mengutang.

"Waktu itu di dalam forum Rakortas sudah disepakati dan kami siapkan. Bahkan kami siap untuk membelinya bahkan 1 juta pun. Kami siapkan anggarannya walaupun anggarannya ngutang tapi itulah kesimpulan bahwa Bulog siap untuk menyerap dari dalam negeri," ungkapnya.

Namun hingga kini, kata Budi, rencana penyerapan tersebut tak kunjung terealisasi karena Kementan tidak menepati janjinya. Untuk menyiasatinya, Perum Bulog telah mencoba melakukan pendekatan kepada pengusaha-pengusaha besar yang menjual beras, tapi mereka tidak mau menjualnya ke perum Bulog.

"Kurang lebih bulan November awal (janji) sampai hari ini tidak terealisasi. Karena janji itu tidak terealisasi dan saya sudah mencoba pendekatan kepada pengusaha-pengusaha beras besar mereka juga tidak bersedia untuk memberikan kepada kita dengan harga komersil karena mereka menjaga suplainya untuk pasar mereka. ini fakta yang di lapangan seperti itu bukan kita tidak berpihak kepada petani justru saya sangat berpihak kepada petani," pungkasnya.