Pulihkan Ekonomi DIY, Sultan Usulkan Modernisasi Konsep Among Tani

Ekonomi global terkontraksi pada triwulan II 2020 dan diperkirakan masih menurun pada triwulan III 2020, sebelum kembali membaik pada triwulan IV 2020

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menandatangani nota kesepakatan mengenai pengembangan dan pemanfaatan ekonomi di DIY bersama dengan sejumlah pimpinan bank yakni Bank Indonesia, BRI, BNI, dan BPD DIY. Agenda tersebut dilakukan dalam rangkaian acara Rapat Koordinasi Daerah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY yang digelar di MICC Hall, Alana Hotel, Sleman, Senin (14/09) pagi. Pada kesempatan yang sama, Sri Sultan juga memberikan Surat Keputusan kepada Direktur Utama Bank BPD DIY Santoso Rohmad untuk bertanggungjawab dalam mengembangkan Usaha Mikro dan Menengah di DIY.

Agenda rapat TPID kali ini membahas mengenai strategi pemulihan perekomomian dan upaya stabilisasi harga di DIY saat pandemi COVID-19. Turut hadir pada kesempatan tersebut Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Drs. Tri Saktiyana, M.M, Bupati Sleman Sri Purnomo, Bupati Kulon Progo Sutedjo, Kapolda DIY Irjen Pol. Asep Suhendar, dan Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana. Seluruh peserta rapat diwajibkan untuk menaati prinsip 4M: memakai masker; mencuci tangan; menjaga jarak, dan menjauhi kerumunan.

Pada sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta Hilman Tisnawan mengatakan bahwa ekonomi global terkontraksi pada 2020. “Ekonomi global terkontraksi pada triwulan II 2020 dan diperkirakan masih menurun pada triwulan III 2020, sebelum kembali membaik pada triwulan IV 2020. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2021 akan meningkat, termasuk Indonesia. Hal ini didorong adanya dampak positif kebijakan yang ditempuh di banyak negara tahun 2020.

Di samping itu, Hilman mengatakan bahwa DIY memasuki resesi dengan pertumbuhan negatif pada dua kuartal berturut-turut. “Daerah pariwisata seperti DIY dan Bali menjadi yang paling terdampak dari berhentinya aktivitas manusia akibat pandemi, Penurunannya hingga mencapai -6,74%. Namun demikian, sektor pertanian justru masih mampu bertumbuh,” jelas Hilman.

Di samping itu, dengan adanya penurunan ekonomi di DIY menyebabkan inflasi yang rendah. Namun demikian, inflasi berpotensi meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi. “Tantangan inflasi di era pandemi adalah permintaan yang masih lemah. TPID perlu menjaga ekspektasi dan mendorong konsumsi, salah satunya dengan digitalisasi,” tambah Hilman.

Gubernur DIY yang juga bertindak sebagai keynote speaker menuturkan bahwa pengendalian keseimbangan sektor ekonomi dan kesehatan layaknya seorang kusir andong pemula yang perlu belajar tarik-ulur tali kekang untuk mengendalikan arah dan laju lari sang kuda. “Namun demikian, inflasi di satu sisi dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, inflasi rendah akibat COVID-19 justru mempersulit stabilitas ekonomi, karena harga komoditas turun dan pendapatan masyarakat juga rata-rata turun drastis. Meski harga murah, tetap tidak terjangkau oleh daya beli. Sebaliknya, jika terjadi deflasi, pasti disertai penurunan harga, juga menurunkan tingkat pendapatan dan laba perusahaan,” jelas Ngarsa Dalem.

Ngarsa Dalem melanjutkan bahwa DIY telah mengalami deflasi per Agustus 2020 sebesar 0.04 persen (month to month/mtm). Deflasi ini terjadi di tengah aktivitas ekonomi yang mulai bergerak, terutama industri pariwisata dan perdagangan ritel. Angka tersebut menjadikan laju inflasi secara akumulatif hingga Agustus 2020 sebesar 0,68 persen (year to date/ytd) iatau 1,64 year on year/yoy) secara tahunan.