Kasus Guru Honorer Pamer Gaji 700 Ribu di Bone Seharusnya Mendapat Perhatian, Bukan Pemecatan

P2G menilai guru yang bersangkutan seharusnya mendapat perhatian.

Guru honorer di Bone yang dipecat

Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti pemecatan guru honorer di Bone, Sulawesi Selatan, lantaran mengunggah gaji sebesar Rp700 ribu di media sosial (Medsos). P2G menilai guru yang bersangkutan seharusnya mendapat perhatian.

"Bukannya mendapatkan perbaikan nasib selama pandemi, malah dihadiahi pemecatan," kata Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri dalam keterangannya kepada Medcom.id, Senin, 15 Februari 2021.

Menurut Iman, kasus tersebut tak sejalan dengan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Nadiem, kata dia, selalu menyatakan janji perbaikan kesejahteraan para guru honorer.

"Setiap Hari Guru, para guru honorer selalu diberikan angin surga. Kemudian tahun berikutnya muncul fakta pendidikan dan guru yang bertolakbelakang dengan janji-janji tersebut. Tahun lalu kami sudah menyebutnya ‘prank’, karena janji tersebut tidak terlaksana," beber dia.

Bagi Iman, kasus guru di Bone sekaligus menjadi indikasi kuat kalau masih banyak guru yang mendapat gaji tidak layak. Dia meminta pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru honorer.

"Catatan P2G, masih banyak sekali guru honorer yang dibayar tidak wajar, bahkan kurang dari Rp700 ribu, apalagi di sekolah swasta pinggiran," ungkapnya.

Iman berharap agar kasus ini tidak terulang kembali. Guru harus mendapatkan perlindungan, terlebih mengunggah slip gaji di media sosial, bagi dia, bukanlah pelanggaran hukum.

"Persoalan tindakan diskriminatif terhadap para guru honorer tidak terus terulang di masa mendatang," tutur dia.