Tancap Gas Usai Lebaran, KKP Ajak Masyarakat Perbatasan Bangga Makan Ikan

Kunci masa depan ada di perempuan dan anak-anak, mari bekali mereka dengan asupan bergizi. Makan ikan juga bisa dengan yang praktis, yakni dari produk yang sudah diolah dari UMKM setempat

Foto Dok KKP

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) langsung tancap gas usai libur Lebaran 2022. Melalui program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), KKP mengingatkan masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, perbatasan RI - Timor-Leste untuk bangga makan ikan. Terlebih wilayah tersebut dikelilingi laut dengan potensi perikanan yang luar biasa.

"Kekayaan sumber daya ikan Indonesia yang melimpah merupakan modal dasar untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus gizi masyarakat Indonesia," terang Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Artati menegaskan, makan ikan sangat penting dalam peningkatan kecerdasan, terutama fase 1.000 hari pertama kehidupan. Merujuk data Susenas 2020, masyarakat Kabupaten TTS dan Kabupaten Belu memiliki preferensi konsumsi yang tinggi pada ikan segar tuna, tongkol, cakalang, dencis, dan ikan kayu.

Kandungan gizi ikan tuna dalam 100 gram  berdasarkan data Kemenkes RI meliputi protein (24,4 gr), lemak (0,5 gr),  Natrium (45 mg), Vit. B1 (0,12 mg), Riboflavin (0,12 mg), Vit. B5/Asam pantotenat (0,28 mg), Vit. B6 (0,93 mg), Kalsium (4 mg), Zat Besi (0,77 mg), Magnesium (35 mg), Fosfor (2,78 mg), Kalium (441 mg), Natrium (45 mg), dan Zinc (0,37 mg).

"Kandungan zat-zat tersebut sangat bermanfaat untuk pemenuhan protein yang lengkap dari ikan, menyehatkan jantung, mencegah anemia, membantu mengatasi stres, menjaga kesehatan tulang," urainya.

Karenanya, Artati mengajak masyarakat setempat melalui Tim Gemarikan untuk kembali ke pangan yang melimpah di daerah tersebut. Terlebih angka konsumsi ikan dalam rumah tangga (KIDRT) Kabupaten TTS tercatat 20,33 kg per kapita setara ikan utuh segar. Sedangkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) 2021, menunjukkan angka stunting di Kabupaten TTS mencapai 48,3% atau 48 dari 100 balita mengalami stunting. Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Belu, dengan angka 39,9% menunjukkan 39-40 dari 100 balita mengalami stunting.

"Ini menjadi dasar bagi kita untuk menggencarkan Gemarikan di TTS dan Belu agar masyarakat bangga dengan pangan yang tersedia di daerahnya," tegas Artati.

Senada, Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP, Erwin Dwiyana yang hadir langsung di Kabupaten TTS dan Kabupaten Belu mengungkapkan sejak awal dicanangkan, Gemarikan merupakan gerakan yang mengajak masyarakat untuk bangga makan ikan. Menurutnya, sebagai negara maritim, Indonesia memiliki modal besar dalam membekali generasi penerus bangsa dengan pangan bergizi.

"Dengan kandungan omega 3 yang melimpah di dalam ikan, sebenarnya kita sudah disediakan asupan yang memungkinkan kita untuk jadi bangsa yang cerdas dan kuat," terang Erwin.

Ia menambahkan, dalam setiap Safari Gemarikan, KKP mengajak para ibu dan anak-anak, termasuk juga pasangan baru menikah untuk turut serta menyukseskan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, pangan bergizi juga tak harus yang mahal, dan juga tak melulu harus digoreng.

"Kunci masa depan ada di perempuan dan anak-anak, mari bekali mereka dengan asupan bergizi. Makan ikan juga bisa dengan yang praktis, yakni dari produk yang sudah diolah dari UMKM setempat," tutupnya.

Sebagai informasi, di kedua lokasi ini, KKP bersama Anggota Komisi IV DPR RI Edward Tannur, S.H. membagikan 1.000 paket olahan ikan. Paket tersebut diserap dari UMKM setempat guna mempromosikan produk mereka. Produk tersebut berupa nugget ikan tuna, lumpia ikan tuna, abon ikan hingga teri kering yang aman disimpan lebih dari 1 bulan.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono terus mengampanyekan pentingnya makan ikan. Dengan makan ikan, akan tercipta generasi yang tangguh, unggul dan cerdas.