Siap Fasilitasi Dialog Antarsuporter Yogyakarta dan Sleman, Sri Sultan: Jangan Kebablasan

Sri Sultan menyesalkan bahwa fanatisme dukungan antarsuporter di DIY akhirnya merusak solidaritas berolahraga

Ilustrasi (Foto: Radar Jogja)

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan duka cita atas meninggalnya salah satu suporter PSS Sleman Tri Fajar Firmansyah pada Selasa (02/08).

Menurut Sri Sultan, kejadian semacam ini dapat dicegah apabila para suporter sepakbola senantiasa mengedepankan rasa guyub rukun. Sri Sultan tak melarang masing-masing suporter mendukung tim favoritnya asalkan tetap menjaga nilai-nilai keistimewaan Jogja.

Sri Sultan menyesalkan bahwa fanatisme dukungan antarsuporter di DIY akhirnya merusak solidaritas berolahraga. Sri Sultan pun meminta fanatisme ini ditujukan untuk prestasi masing-masing klub. 

“Saya minta (suporter) Kota dan Sleman, saya mau memfasilitasi dialog suporter ini. Pendekatannya yang penting kompak untuk jadi bagian dari DIY, jangan berkelompok-kelompok. Olahraga mestinya membangun solidaritas bersama. Saya ingin mereka punya kesadaran bersama untuk berdialog, saya memfasilitasi, provinsi tidak ada masalah. Bagaimanapun masyarakat Jogja masyarakat kita bersama.” jelasnya

Sri Sultan tak memandang latar belakang suporter, namun bagaimana nilai-nilai kemanusiaan tak hanya bergema saat di lapangan bola saja, melainkan juga saat bertemu di jalan atau dimana pun. Selain itu, Sri Sultan juga meminta setiap kelompok berafiliasi pada tindakan positif, membangun solidaritas, dan saling mendukung untuk berprestasi. 

Menurut Sri Sultan, adanya dialog yang digelar dapat menjadi wadah untuk saling bertukar pikiran demi majunya sepakbola di DIY. Bukan lagi membalas soal rivalitas kelompok dan berujung pada tindakan dan situasi yang tak sehat. Sri Sultan senantiasa berharap agar olahraga tidak disertai dengan tindakan anarkis yang merugikan banyak pihak. 

“Kita dialog, mau fasilitasi provinsi bersama-sama. Bagaimana pun, masyarakat Jogja adalah masyarakat kita bersama. Jangan selalu terjadi tindakan-tindakan yang akhirnya konsekuensi pidana. Kalau bersorak-sorak biasa, ning (tapi) jangan kebablasan,” tutup Sri Sultan.