Amien Rais Turun Gunung, Bentuk Tim Pengawal Kasus Tewasnya 6 Laskar FPI

Amien menjelaskan, akan banyak orang lagi yang akan berbicara terkait dengan peristiwa ini.

Amien Rais

Politisi senior Amien Rais ikut turun gunung mengawal penuntasan kasus tewasnya 6 laskar FPI. Amien bersama 17 orang tokoh masyarakat lainnya kemudian membentuk Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) Enam Laskar FPI.

Sebagai tindak lanjut dari pembentukan TP3 itu adalah sebuah buku putih yang nantinya memuat sejumlah fakta terkait dengan kasus tewasnya enam.laskar FPI di Tol Jakarta-Cikampek KM 50.

Amien Rais menuturkan pembuatan buku putih tersebut dilakukan agar seluruh komponen masyarakat, mulai dari masyarakat nasional hingga internasional tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Kita akan punya insya Allah sebuah buku putih yang akan menyajikan kenyataan sejujurnya. Supaya paling tidak bangsa kita tahu apa yang terjadi dan masyarakat internasional (tahu) apa yang terjadi ya," ucap Amien Rais saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (21/1/2021).

Amien menjelaskan, akan banyak orang lagi yang akan berbicara terkait dengan peristiwa ini. Menurutnya, semakin banyak orang yang tergerak hatinya dalam pengungkapan kasus tersebut, masa depan Indonesia masih dapat diselamatkan.

"Kami ini sebagian di sini dan ribuan orang lagi kita akan speak out dan kita akan bicara apa adanya. Kita akan ikuti terus. Saya yakin dari segi keimanan kami masih ada anak bangsa yang peduli. Ini masih sebagian punya kewaspadaan, masih punya keprihatinan untuk menegakkan keadilan, tentu bangsa ini masih punya masa depan," ucapnya.

Di kesempatan yang sama, salah satu aanggota TP3 Marwan Batubara menyebut pihaknya memiliki sejumlah fakta yang akan ditunjukkan ke masyarakat. Jika diperlukan, buku putih tersebut juga akan disampaikam ke Presiden Jokowi atau DPR.

"Disebutkan Pak Amien, kita bikin buku putih, kita punya fakta, kita tunjukkan kepada publik. Kita ajak seluruh rakyat memang punya rasa kemanusiaan untuk bergabung bersama kita menyuarakan ini. Pak Jokowi mungkin kita akan ke sana kalau memang perlu, lalu kita akan ke DPR, atau ke mana yang kita anggap relevan untuk melakukan advokasi ke lembaga-lembaga internasional yang relevan dan saya kira itu mungkin," ujarnya.