Pemerintah Disarankan Tunda PTM, MPR: Generasi Penerus Bangsa Harus Dilindungi dari COVID-19

Dia mengatakan di saat bangsa Indonesia mulai membuka kembali sekolah tatap muka, muncul varian baru COVID-19 yang memiliki daya penularan yang lebih cepat. Akibat varian baru tersebut, katanya, menimbulkan lonjakan penularan

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Jazilul Fawaid - Foto: Dok MPR

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Jazilul Fawaid menyarankan agar proses pembelajaran tatap muka (PTM) yang telah digelar di beberapa sekolah dan daerah ditunda atau dijadwal ulang menyusul munculnya varian baru Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia. 

"Kita berada dalam pilihan yang sulit, sebaiknya mendahulukan kesehatan daripada yang lain. Sebaiknya pembelajaran tatap muka ditunda sampai waktu yang memungkinkan untuk dibuka kembali," kata Jazilul atau Gus Jazil dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (20/06/2021).

Jazilul menilai anak-anak Indonesia perlu dilindungi dari pandemi COVID-19 karena mereka adalah generasi muda penerus bangsa. Dia merasa prihatin dengan munculnya varian baru Covid-19 dan terbukti semakin tingginya angka penularan membuat kondisi mengancam dari proses pembelajaran tatap muka yang tengah berlangsung.

"Dalam menghadapi pandemi, apalagi dengan ditemukannya varian baru yang lebih berbahaya, kita tidak boleh pesimis, pasrah, apalagi putus asa," ujarnya.

Dia mengatakan di saat bangsa Indonesia mulai membuka kembali sekolah tatap muka, muncul varian baru COVID-19 yang memiliki daya penularan yang lebih cepat. Akibat varian baru tersebut, katanya, menimbulkan lonjakan penularan.

Bangkalan (Jawa Timur); Kudus (Jawa Tengah); dan Jakarta, merupakan tempat di mana varian baru itu ditemukan. Padahal, menurut dia, dengan digelarnya pembelajaran tatap muka, membuat Indonesia terhindar dari hilangnya masa depan generasi penerus bangsa atau lost generation.

"Sudah setahun lebih anak-anak Indonesia tidak pergi ke sekolah, itu tidak hanya membuat bangsa ini terancam lost generation, namun juga bisa mengakibatkan anak-anak Indonesia malas belajar dan pergi ke sekolah," pungkasnya.