Legislator Minta Luhut tak Bikin Pernyataan yang Membingungkan Masyarakat!

Pernyataan Luhut yang membingungkan tersebut antara lain, terkait kasus COVID-19 yang melandai setelah tanggal 12 Juli 2021, klaim situasi terkendali, dan COVID-19 varian Delta sulit dikendalikan

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Fraksi Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsudin - Foto: IG

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Fraksi Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsudin menilai, pernyataan Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali, Luhut Binsar Pandjaitan yang selalu berubah-ubah tidak bisa dipegang dalam menyikapi pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

"Menko Marinvest Luhut Pandjaitan harusnya tidak membuat pernyataan yang setiap saat berubah-ubah yang membingungkan masyarakat," ujar Didi Irawadi dalam pesan tertulisnya yang diterima redaksi, Jumat (16/07/2021).

Pernyataan Luhut yang membingungkan tersebut antara lain, terkait kasus COVID-19 yang melandai setelah tanggal 12 Juli 2021, klaim situasi terkendali, dan COVID-19 varian Delta sulit dikendalikan.

"Yang pasti berdasarkan fakta yang ada kasus COVID yang terdeteksi meroket hingga hampir 57.000 bukankah itu menunjukkan keadaan sudah buruk? Jangan-jangan lebih dari itu jika swab lebih luas lagi," tandas Diri.

Berdasarkan data yang ada padanya, jelasnya, jumlah kasus baru COVID-19 di Indonesia per 15 Juli 2021 mencapai 56.757 kasus dengan rata-rata penambahan kasus baru dalam seminggu terakhir 41.521.

"Sedangkan kasus kematian berjumlah 982 kasus dengan 900 kematian rata-rata dalam 7 hari terakhir. Bandingkan dengan kasus baru di Amerika Serikat 20.450 kasus dengan jumlah kematian 211," katanya.

Di India, kasus baru COVID-19 mencapai 38.792 dengan kematian 624. Brazil sebagai negara di Amerika Latin, kasus baru tertinggi mencapai 17.031 kasus dengan angka kematian mencapai 745. 

"Hampir sama dengan Rusia dengan kasus kematian sejumlah 786 dan kasus baru 23.827," sebutnya.

Menurut Didi, menjadi jelas bahwa kematian akibat COVID-19 di Indonesia yang sangat tinggi karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Hal ini terbukti dari tingginya angka kematian warga yang isoman di rumah.

"Kita bisa melihat sendiri kondisi nyata di lapangan bahwa masyarakat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dalam situasi darurat. Akibatnya, kematian banyak terjadi pada saat isolasi mandiri," ujarnya.

Tidak hanya itu, kematian di rumah sakit juga meningkat akibat banyak pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi kritis butuh penanganan segera, tetapi penanganan tidak bisa dilakukan secara maksimal.

"Fakta lainnya, masyarakat kesulitan membeli obat-obatan khusus Covid-19 dan kalaupun ada jumlahnya terbatas dan harganya sangat mahal. Belum lagi tabung oksigen yang langka," pungkas Didi Irawadi Syamsudin.