Rocky Gerung Panen Hujatan Usai Sebut Ganjar dan Puan Bodoh: Disebut Dangkal, Banyak Bacot Hingga Gila Tampil di Medsos!

Akibat ucapannya, Rocky pun panen hujatan dari politikus berlambang Banteng Moncong Putih tersebut.

Rocky Gerung. (foto: istimewa)

Pernyataan Rocky Gerung yang menyebut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Puan Maharani bodoh bagi kaum milenial karena tidak mengungkapkan berbagai diksi dalam the new grammar of world's politic, bikin sejumlah politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) meradang.

Akibat ucapannya, Rocky pun panen hujatan dari politikus berlambang Banteng Moncong Putih tersebut.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangsel Wanto Sugito menganggap pemikiran Rocky dangkal dan rendah kebijaksanaan. Bahkan, Rocky dianggap membodohi diri sendiri.

"Pernyataan Rocky Gerung justru membodohi diri sendiri. Dalam budaya timur, semakin pintar seseorang, semakin rendah hati dan santun. Rocky ini sesuai namanya hanyalah petinju intelektual, yang mengomersialkan pemikirannya, bukan menggunakan pemikiran bagi peningkatan peradaban bangsa," kata Wanto dalam keterangannya.

Menurut Wanto, diksi yang dipakai Rocky Gerung untuk mengukur kepintaran itu dari Barat. Padahal, menurutnya, pemahaman politik Indonesia jauh lebih maju dengan asas gotong royong.

"Gender equality itu kalah dengan prinsip kebangsaan yang menjadi jiwa semangat persatuan. Dalam prinsip kebangsaan ini, tidak hanya gender yang setara, tetapi suku, agama, status sosial, semua warga negara setara. Jadi Indonesia jauh lebih maju pemahaman politiknya. Apalagi urusan human right, Indonesia lebih maju dari Piagam PBB karena kemerdekaan Indonesia itu untuk membangun dunia yang bebas dari segala penjajahan," jelas dia.

Karenanya, Wanto menganggap justru Rocky yang tidak paham mengenai diksi politik di Indonesia. Bahkan, ia menyebut Rocky Gerung menggambarkan kehadiran benalu dalam politik.

"Rocky sebaiknya menjadi petarung intelektual saja, pesilat kata-kata. Karena itulah melihat Rocky Gerung jangan gunakan etika, dan moral. Apalagi kebijaksanaan. Kata-kata Rocky Gerung itu penting untuk menggambarkan kehadiran benalu dalam politik," ungkap Wanto.

Sebelumnya, politikus PDIP Junimart Girsang bahkan menyebut Rocky sedang tertidur dan tidak melihat kenyataan. Ia menyarankan Rocky untuk bangun dari mimpinya.

"Saran saya, sebaiknya Rocky Gerung bangun dari mimpi tidurnya, lalu cuci muka. Nah setelahnya perhatikan di sekeliling, masih COVID-19, saat ini belum momen untuk kampanye Pemilu. Semua pihak baik itu kader dari PDI-Perjuangan, bahkan Ibu Puan dan Pak Ganjar bersama-sama Pemerintah sedang fokus meminimalisir pencegahan, penyebaran COVID-19, termasuk melakukan vaksinasi di daerah-daerah," kata Junimart.

Menurut Junimart, tidak etis jika Puan atau pun Ganjar melakukan kampanye seperti yang disampaikan Rocky. Puan dan Ganjar dianggap masih sibuk dan fokus pada tugasnya masing-masing, di legislatif dan eksekutif.

"Jadi logika berpikir Rocky Gerung seperti ini tidak perlu diperdebatkan. Artinya frame of referencenya memang sudah error. Karakternya melekat dengan sifat over-acting, cari perhatian. Saya ibaratkan RG ini bila lampu sedang merah dia jalan, hijau berhenti dan kuning kebingungan. Pernyataannya menurut saya selalu bertolak belakang dengan kenyataan," tuturnya.

Sementara kader Senior PDIP, Aria Bima juga angkat bicara. Menurutnya seperti dikutip detikcom, anggapan Rocky tersebut harus dilihat dari sudut pandangnya, sehingga tidak serta merta menyebut dua kader PDIP itu bodoh.

"Soal bodoh dan pintar itu tergantung dari sudut mana melihat dan mengkategorikannya. Tentu dengan masing masing dimensinya," kata Aria Bima.

Tetapi, Aria Bima melanjutkan, jika dikaitkan dengan milenial dengan cakupan abstraksi kekiniannya, justru Rocky Gerung lebih terkenal dengan sikap kritis dan tidak sopan.

"Tapi kalau dikaitkan dengan milenial dengan cakupan abstraksi kekiniannya yang lagi mencari dan membentuk diri, agaknya Rocky Gerung yang terkenal cerdas dan kritis dan tidak sopan dalam berkomunikasi itu, kali ini terkesan asal ngebacot," tuturnya.

Dia beranggapan bahwa Rocky Gerung aditif untuk bisa terus tampil di media sosial (medsos). Sehingga, menyampaikan ungkapan-ungkapan yang terkesan mencari-cari masalah.

"Mungkin saja dia aditif terhadap tampil terus-menerus di medsos, karena itu jadi gila mencari-cari masalah. Rocky aditif atau kecanduan tampil di medsos, ya anggap saja dia gila. Itu asumtif saya," tandasnya.

Sebelumnya, Rocky Gerung mengatakan ada sejumlah kekonyolan dalam dunia perpolitikan Indonesia, khususnya terkait calon presiden di 2024.

Salah satunya, menurutnya, berupaya menaikkan elektabilitas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua DPR Puan Maharani merupakan hal yang konyol.

Hal itu disampaikan Rocky Gerung dalam 'Memprediksi Kemunculan Capres Ala Pembagian Wilayah Penanganan Covid (Jawa Bali - Non Jawa Bali)' yang digelar KedaiKOPI, Jumat (15/10/2021).

Rocky Gerung mulanya bicara soal perbincangannya dengan kaum milenial di Indonesia dan beberapa negara. Dia mengatakan para kaum milenial itu heran atas isu-isu politik yang ramai di Indonesia.

"Saya berdiskusi dengan kaum milenial. Mereka mendengar kekonyolan-kekonyolan dalam politik kita, banteng vs celeng. Dia bingung," katanya.

Padahal, kata Rocky Gerung, para kaum milenial ingin tokoh-tokoh politik unjuk gigi dalam hal akademis. Misalnya terkait dengan society 5.0 yang membahas gender equality hingga human rights.

"Padahal kami milenial yang 2024 nanti akan memilih mau lihat pertengkaran akademis di dunia politik Indonesia sama seperti pertengkaran di luar negeri. Soal gender equality, new kind of economy. Kok kita nggak denger ya Puan ngomong itu. Om yang rambutnya kayak bintang film putih itu, Ganjar Pranowo, ngomong itu. Kok kita nggak lihat Kang Emil ngomong itu," tutur Rocky Gerung.

"Society 5.0 isinya intellectuality, human right, gender equality. Mereka nggak dapet itu," imbuh dia.

Karena itu, menurut Rocky Gerung, berupaya menaikkan elektabilitas Ganjar ataupun Puan adalah hal yang konyol. Sebab, kaum milenial ingin sosok calon presiden yang concern pada gender equality hingga demokrasi.

"Jadi konyol kita berupaya menaikkan elektabilitas Ganjar, padahal bagi milenial itu orang bodoh. Demikian juga Puan. Sama, mereka anggap ini orang nggak ngerti new grammar of world's politic adalah gender equality, democracy, human rights," ujar.