Terkait Transisi Energi, Legislator PKS Ingatkan Pemerintah Soal Jebakan Utang Baru yang Ditawarkan di KTT G20!

Diah memberikan catatan, jangan sampai kesepakatan terkait transisi energi ini pada akhirnya berbuah utang baru bagi Indonesia. Karena, menurut Diah, seharusnya Indonesia jangan berbangga mendapatkan prioritas dana hibah, karena hal itu merupakan sama saja dengan utang

Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Diah Nurwitasari - Foto: dpr.go.id

Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Diah Nurwitasari menyoroti utang Indonesia, berkaitan dengan program transisi energi yang hendak dilakukan pemerintah.

Dalam kesepakatan yang dihasilkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 mengenai transisi energi, Indonesia mendapatkan tawaran bantuan untuk menutup Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). 

Diah memberikan catatan, jangan sampai kesepakatan terkait transisi energi ini pada akhirnya berbuah utang baru bagi Indonesia. Karena, menurut Diah, seharusnya Indonesia jangan berbangga mendapatkan prioritas dana hibah, karena hal itu merupakan sama saja dengan utang. 

“Indonesia menjadi prioritas dalam mendapatkan pendanaan, tapi itu merupakan bahasa indah, kenyataannya mendapatkan pendanaan itu kita dapat utang, jadi jangan berbangga dengan utang,” kata Diah saat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif beserta jajaran, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta.

Diah juga memperingatkan agar pemerintah hati-hati dan jangan terjebak dengan perjanjian yang bernilai utang. Ia menuturkan agar lebih memikirkan jangka panjang dan kemanfaatan untuk kepentingan bangsa. 

“Utangnya sudah jelas, programnya tidak bisa kita realisasikan, gagal pula misalnya programnya, tapi utangnya sudah keburu jadi utang buat kita. Akhirnya kita harus membayar sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk bangsa kita,” kritik Diah.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga menanyakan tentang program Dimethyl Ether (DME) yang berkaitan dengan aktivitas impor LPG yang dilakukan oleh pemerintah melalui perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

“Saya ingin mendapatkan  data, sebenernya impor LPG kira tahun ini diangka berapa? Sehingga kita punya kalkulasi terkait hal ini,” tanya Diah.

Diah juga menyoroti tentang pelaksanaan konversi motor listrik yang dilakukan pemerintah dalam program transisi energi. 

“Adakah survey yang sudah pemerintah lakukan tentang ketertarikan masyarakat terhadap program in? Jangan sampai kita hanya melihat angkat dalam hal produksi, tetapi tidakberbasis dengan data kebutuhan masyarakat,” tutur Legislator Dapil Jawa Barat II yang juga lulusan teknik penerbangan di Jerman tersebut.

Senada, Anggota Komisi VII DPR RI, Andi Yuliani Paris menilai, hal ini perlu kehati-hatian dari Pemerintah Indonesia. Menurutnya, pendanaan ini bisa menjadi jebakan dan menjadi utang yang harus dibayarkan masyarakat Indonesia. 

“Ketika saya membaca hasil KTT G20 di Bali ternyata banyak hal yang saya khawatir menjadi jebakan bagi Pemerintah Indonesia," ungkap Politisi Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Menurut Andi Yuliani, beberapa kerja sama yang dilakukan Indonesia dengan luar negeri bisa menjadi menambah beban utang Indonesia. Andi kembali menekankan Menteri ESDM agar lebih berhati-hati terhadap pendanaan yang diterima. 

“MoU clean energy related project untuk green financing, tapi green financing tetap saja utang Pak Menteri, be careful,” tegas Legislator Dapil Sulawesi Selatan II tersebut.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia mendapatkan komitmen pendanaan hingga 20 miliar dollar AS atau Rp311 triliun (asumsi kurs Rp15.564 per dollar AS) dari negara-negara maju yang tergabung dalam G7, termasuk Amerika Serikat. Komitmen pendanaan tersebut diungkapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden saat KTT G20 di Bali.

Biden menyebut, komitmen tersebut akan disalurkan melalui inisiatif Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Jepang. 

Kedua negara maju ini akan memimpin negosiasi dengan International Partners Group terkait pendanaan transisi energi di Indonesia, terutama untuk meninggalkan batu bara sebagai sumber energi pembangkit listrik.